Thursday, November 19, 2009

Ryaas Rasyid, Dari Lurah Sampai Menteri


Ia hampir selalu sukses di setiap tugas yang diembannya. Karena kemampuannya, tak hanya lurah, kursi menteri pun didapatnya.

Tik. Tik. Tik. Suara mesin ketik memecah kesunyian. Selang beberapa jenak, terdengar orang suara membacakan sesuatu, disusul suara mesin ketik seolah beradu cepat. Dua orang sahabat di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta ( IIP ) itu sedang menyelesaikan sebuah skripsi. Si empunya skripsi tak bisa mengetik. Ia bertugas mendiktekan dan sahabatnya mengetik.

Kenangan persahabatannya dengan Jos Dawan semasa menimba ilmu di IIP masih segar dalam ingatan Ryaas Rasyid. Jebolan University of Hawai ini tak melupakan semua yang berperan dalam karirnya. Ia mengingat semuanya dengan baik, sebaik dia mengingat tiap jejak yang telah ditinggalkannya.

Mengawali karir di pemerintahan sebagai staf biasa biro kepegawaian Kota Makasar pada 1972, lalu berpindah-pindah bagian. Menjadi Staf administrasi bagian pemerintahan, staf tata usaha, sampai menjadi Mantri Polisi (sekarang wakil camat) Kecamatan Mariso. Setelah enam bulan Ryaas diangkat sebagai Lurah Melayu, Kecamatan Wajo, Makasar pada Agustus 1972.

Empat tahun lamanya ia bertugas sebagai lurah. Dalam masa kepemimpinannya Kelurahan Melayu menjadi kelurahan terbaik di Makasar. Berbagai prestasi diraih. Juara kebersihan, juara pemasukan pajak, juara pembangunan lingkungan, adalah sebagian prestasi Lurah Ryaas Rasyid.

Setelah purna tugas sebagai lurah, Ryaas melanjutkan sekolah di IIP Jakarta. Ketekunan dan keuletannya mengantarkan ayah satu orang putera ini sebagai lulusan terbaik di angkatan 1977. Ia diminta untuk menjadi tenaga pengajar di almamaternya. Meski sangat tertarik dengan tawaran itu, namun ia harus kembali untuk membaktikan diri bagi daerahnya.

Lelaki kelahiran Gowa, 7 Desember 1949 ini lalu kembali ke Makasar. Meski begitu, ia tetap menyimpan keinginan untuk menjadi dosen suatu saat nanti. Ia dipercaya menjadi wakil kepala sub dinas pajak. Di jabatan ini ia kembali menunjukan kemampuannya sebagai seorang pemimpin yang handal.

Dengan pendekatan personal yang baik, kinerja seluruh jajarannya meningkat. Bonus dan insentif tambahan diberikan kepada staf yang menjalankan tugas dengan baik. Hasilnya pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi daerah meningkat sekitar 200% dari masa sebelumnya.
Prestasi itu membuat ia diangkat sebagai Kepala Bagian Pemerintahan Kota Makasar. Kerinduan untuk jadi dosen membuat Ryaas hanya sebentar menduduki jabatan ini. Pada pertengahan tahun 1979 ia memutuskan kembali ke Jakarta dan menjadi dosen di IIP. Ryaas tak hanya mengandalkan dosen sebagai mata pencahariannya, untuk bisa survive ia menjadi konsultan politik pemerintah, menjadi peneliti, sampai staf khusus Irjen Depdagri dilakoninya.

Saat merasa sudah cukup aman secara ekonomi, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menjatuhkan pilihannya di Northern Illinois University Amerika Serikat.Ia menyelesaikan kuliah master beserta tesis dalam waktu 20 bulan. Dengan gelar MA Politcal Science ia kembali ke Jakarta dan menjadi Direktur Laboratorium Pemerintahan IIP. Pada bulan Desember 1989, ia kembali lagi ke AS untuk mengambil program doktoralnya di University of Hawai. Setelah selesai pada Juli 1994 ia kembali ke Jakarta. Dan, pada bulan September tahun yang sama Ryaas Rasyid telah menduduki kursi rektor IIP.

*****

Suatu siang di tahun 1998, Ryaas Rasyid mendapat undangan makan siang dari Syarwan Hamid, Menteri Dalam Negeri yang baru dilantik. Dalam kesempatan itu Syarwan meminta kesediaan Ryaas untuk menjadi Dirjen Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah. “Saya terima, tapi dengan syarat,” kata pria yang terkesan dengan pemikiran Napoleon Bonaparte ini, menerawang. “Syaratnya, saya diberi kebebasan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang menurut saya baik bagi pemerintahan,” lanjutnya mengenang. Dan, sang menteri menyanggupinya.

Hasilnya, lahirlah UU Politik, Pemilu, Kepartaian, Pemerintahan Daerah, Otonomi Daerah. Dampak dari semua itu, demokrasi berkembang dengan cukup baik walau masih terdapat kekurangan di sana-sini “Kalau bukan orang berjiwa besar seperti Pak Syarwan saya juga nggak bisa jadi apa-apa,” tuturnya jujur.

Ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden, Ryaas diminta untuk menjadi Menteri Otonomi Daerah. Beberapa bulan setelah itu terjadi reshuffle kabinet. Kementrian Otonomi Daerah dibubarkan. Ryaas dipercaya menjadi Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara. Ia kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri, pada bulan Februari 2001, karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi di kabinet.

Ryaas kembali ke kampus dan menjadi dosen. Niat tulus untuk berbuat sesuatu bagi negeri yang dicintainya ini, membuatnya pensiun dini dan mendirikan partai. “Dengan partai politik, saya ingin memberi pencerahan kapada masyarakat, bahwa mereka berhak memperoleh pemerintahan yang baik. Dan hak itu adalah hak yang hakiki, karena itu kita merdeka,” kata pria yang percaya bahwa partai politik adalah jalan untuk mewujudkan impiannya tersebut.

Ia mengaku sedih menyaksikan penderitaaan rakyat karena harga BBM yang dinaikkan dengan begitu tinggi. “Pemerintah tidak mampu mengelola resources yang ada. Beban atas ketidakamampuan itu dipindahkan ke rakyat, dengan menaikkan harga. Rakyat kembali harus menderita,” katanya resah. Pandangannya menerawang seakan menembus tembok ruang kerjanya.

Diluar, senja makin merah kala matahari semakin dalam tenggelam di ufuk barat. Lelaki Makasar yang juga telah memasuki senja usia itu, masih sangat yakin Indonesia yang dicintainya ini akan memiliki wajah yang lebih baik, suatu saat. Dan, ia masih terus berjuang mewujudkannya. Ia pun yakin, ia tak sendiri.(Christo Korohama/Manly)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home