Saturday, November 14, 2009

Vagina Monolog : Sebuah Pesan Kesetaraan



Waktu berlalu. Era berganti. Namun diskriminasi pada kaum hawa tak sepenuhnya hilang. Vagina Monolog menyanyikan sebuah harapan kesetaraan perilaku. Tabu membicarakan vagina? Tentu tidak.


Vaginaku menyanyikan semua nyanyian gadis kecil, semua bunyi lonceng, semua nyanyian padang liar di musim gugur, nyanyian vagina, nyanyian ruamah vagina. Tidak sejak tentara meletakkan riflenya yang panjang dan keras masuk ke dalamku. Begitu dingin. Tangkai bajanya menghancurkan hatiku………...

Itulah nukilan narasi yang ditulis oleh Eve Ensler dalam bukunya yang terkenal Vagina Monologue. Buku tersebut seakan mewakili sebuah litani panjang kaum hawa di dunia. Eve Ensler sendiri tak pernah menduga bahwa bukunya akan mendapat sambutan luas dari kaum feminis di dunia.

Buku yang meraih penghargaan The Obbie Award Winning Play tersebut oleh banyak pengamat dianggap berhasil memberikan penilaian yang objektif terhadap perempuan. Pada tataran selanjutnya diharapkan ada sebuah paradigma baru yang lebih lurus dan proporsional tentang perempuan.

Perang Bosnia menjadi sumber inspirasi bagi Eve dalam menuliskan buku ini. Perang ini bukan sebuah peperangan biasa. Perang Bosnia nyaris menjadi pemusnahan sebuah bangsa. Bosnia menjadi ladang pembantaian jutaan nyawa tak berdosa. Dan, seperti lazim di manapun dalam sebuah peperangan korban terbesar adalah kaum perempuan.

Mereka harus rela kehilangan segalanya. Keluarga, orang-orang tercinta sampai yang hakiki melekat pada diri mereka. Ya, mereka harus kehilangan harga diri, karena menjadi sasaran perkosaan. Tempat nafsu binatang para serdadu perang dilampiaskan. Dan, hakekat raga perempuan tersebut adalah vagina. Dari titik itulah Eve Ensler memulai penulisannya.

Ia tak hanya melihat Bosnia. Ensler melangkahkan kakinya ke berbagai belahan dunia. Eropa, Asia, Afrika dan Amerika ia singgahi untuk menemui dan mewawancari para wanita, dengan sebuah tema besar pelecehan, perkosaan dan penindasan yang dialami oleh kaum hawa.

Dari perjalanannya, Eve, perempuan berdarah India itu, menemukan bahwa meski dipisah oleh ruang dan waktu, namun hasil dari pelecehan seksual tersebut sama. Perempuan korban pelecehan seksual selalu mengalami trauma mendalam bahkan sampai teralienasi dari lingkungan sosial.

Dengan fakta yang ditemuinya, ia menuliskan sebuah monolog vagina. Sebuah keluh, entah kepada siapa. Sebuah rintih yang tak sempat terdengar. Terpendam di dasar hati. Namun apapun namanya, keluh atau rintihan, yang pasti monolog vagina tersebut adalah sebuah ungkapan kejujuran.

Vagina Monolog tak hanya menjadi keluh perempuan korban pelecehan seksual. Tulisan Ensler tersebut mewakili suara semua kaum hawa, atas sekian banyak ketidakadilan perlakuan yang mereka terima. Vagina Monolog seakan menampar kesadaran kaum hawa untuk tak sungkan bicara tentang dirinya. Tak malu mengungkapkan rasa terdalam dari diri mereka.

Sulit memang pada awalnya. Hal itu pun diakui oleh Theresia Kusmiadi, salah seorang korban inses. Dalam sebuah tulisannya di Harian Kompas, Theresia mengakui baru mengikuti program pemulihan di tahun 1994 atau sekitar 23 tahun sejak ia mengalami inses. Sebuah waktu yang panjang untuk bedamai dengan realitas yang dialaminya.

Program pemulihan itu dijalaninya setelah ia mengalami luka secara fisik dan mental, yang membuatnya seolah menjadi pribadi yang terpasung dari lingkungannya. Dan, untuk memulai proses itu ia harus pindah ke sebuah lingkungan yang serba baru. Terapi tersebut dijalaninya di Amerika Serikat, ribuan mil dari Indonesia, negeri tempat ia mengalami perlakuan tak menyenangkan tersebut.

Apa yang dialami Theresia memang menyedihkan. Situasi tersebut terjadi karena perlakuan yang cenderung diskrimininatif terhadap perempuan, apalagi perempuan korban pelecehan seksual. Secara tak langsung hal tersebut membuat perempuan terpasung.

Kondisi itu semakin diperparah oleh realitas bahwa banyak di antara kita yang tidak berperspektif perempuan. Dan, hal tersebut membuat perempuan terus berada dalam sebuah kepatuhan atas nilai yang sama sekali tak pernah ramah terhadap mereka. Sialnya tak banyak diantara kaum perempuan yang menyadari realitas tersebut.

Keadaan ini juga yang membuat perempuan terpenjara secara pemikiran. Perempuan seolah tak layak mengenal tubuhnya. Fantasi atas tubuhnya pun dibatasi. “Membicarakan alat reproduksinya sendiri pun ditabukan,” kata Dian Kartika Sari dari Koalisi Perempuan Indonesia, sepertu yang dilansir Kompas Cyber Media. Kenyataan-kenyataan tersebut telah beralangsung sangat lama dan seolah telah diterima sebagai sebuah keterberian oleh kaum perempuan dan sebuah kebenaran bagi kaum pria.

Dan, Eve Ensler melalui Vagina Monolog berusaha untuk mendobrak hal tersebut. Monolog itu bertutur jujur tentang apa yang diharapkan vagina sebagai salah satu organ tubuh wanita. Berapa banyak yang peduli bahwa vagina dengan 8100 syaraf sensitif itu membutuhkan kenikmatan yang wajar?

Mungkin juga tak ada yang mau peduli bahwa vagina membutuhkan saat sendiri, saat tenang untuk beristirahat. Dan, karena ketidakpedulian itu perempuan terpaksa harus berbohong dengan berpura-pura orgasme agar lelaki puas? Pernahkah kita berpikir untuk memperlakukannya sama dengan bagian tubuh yang lain?

Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut setidaknya membuat kita harus kembali berpikir tentang kesalahan cara pandang terhadap perempuan. Tak hanya hal-hal yang serius, Ensler pun menggambarkan harapan yang lucu seperti pakaian model apa yang diinginkan vagina. Terkesan lucu namun sangat manusiawi.

Ketika naskah buku tersebut dipentaskan dalam bentuk teater di Madison Square Garden, New York, orang berduyun-duyun datang menyaksikan. Sekitar 18.000 pengunjung menyaksikan penampilan 70 perempuan yang membawakan monolog tersebut dalam rangka peringatan hari perempuan sedunia (V-Day) tahun 2001 tersebut.

Pertunjukan tersebut menjadi sebuah tonggak. Dalam peringatan V-Day tahun berikutnya, Vagina Monolog dipentaskan di 252 kota di dunia, termasuk Jakarta. Pementasan ini adalah sebuah bentuk kampanye penghentian kekerasan terhadap perempuan. Di luar dugaan pementasan ini pun mendapat respon positif. Sebuah tanda kesadaran kolektif untuk memerangi semua bentuk ketidakadilan terhadap kaum perempuan.

Kesadaran kolektif tersebut menggambarkan bahwa banyak di antara kita yang melupakan perlakuan yang proporsional terhadap vagina. Ya, seperti bagian tubuh yang lain vagina pun butuh perlakuan yang adil. Vagina Monolog bukan sebuah pemberontakan. Ia adalah sebuah pesan kesetaraan. Sebuah pesan kebebasan, seperti yang digambarkan Ensler dalam salah satu baitnya.

Vaginaku membantu mengeluarkan bayi raksasa. Ia pikir, ia melakukan lebih dari itu. Tidak. Sekarang, ia ingin bepergian, tidak ingin ditemani banyak orang. Ia ingin membaca dan tahu tentang berbagai hal dan keluar lebih sering. (Christo Korohama/Manly)

1 Comments:

At 1:24 PM, Blogger Bunda Imal said...

Pak mohon ijin mengutip tulisan bapak di blog saya. www.harmonis.net Pada awalnya saya butuh referensi untuk menulis tentang vagina monolog. Namun, saya tidak menemukan rangkaian yang enak untuk ditulis. Saya putuskan untuk mengutip seluruhnya. Percayalah saya menyertakan nama anda sebagai penulis. dan nama anda saya link blog anda. sehingga orang tahu sumber aslinya. jika anda tidak berkenan akan segera saya hapus.

 

Post a Comment

<< Home